Sampai kapan akhirnya menyadari bahwa diriku telah tercebur di hina dina penyesalan, yah aku rasa aku telah menjadi bagiannya
Walaupun seberusaha keras ku tafikkan namun bayang-bayang itu seakan tak mau menjauh
Kala gelap memenuhi ruangan di benakku
Kala mecoba merehatkan fikiran dikepalaku
Namun tidak yang satu itu
kau terus datang dengan cara yang berbeda, entah mengapa
seakan kurasakan malaikat pemisah dunia dan akhirat telah dekat jalannya
akankah kau memberikan isyarat untukku?
Ataukah kiriman doaku tak tersampaikan karena buruknya ibadahku?
Aku.....dengan mengunjungi peristiahatan damai mu pun tak jua membuatku tentram
Kau.....mendatangiku melalui mimpi jua tak memuaskan kesenangan lahir batin yang telah karam
Aku lah yang kejam
Engkau pelantun tembang favoritku kala rasa kantuk menyelubungi dimasa kecilku
Pemerhati setiap hal-hal rinci setitik tak akan lari dari mata jeli mu
Teman setia di hari-hari tumbuh kembangku
Engkau paling tahu apa mauku
Aku tak merasa kehilangan hangatnya dekapan sosok ayah dan ibu
Engkau pandai memerankannya , engkau bisa menjadi keduanya
Memang engkau peran utamanya, yang paling dekat dengan hatiku
Yang menjadi kesayanganku selamanya
Pastinya dahulu engkau sangat kesepian, kan?
Salahkan saja aku yang tak mau bertahan saat keadaan seolah membuatmu bukan lagi pahlawan
Seharusnya akulah harus nya di hukum kenyataan
Akulah yang harus di cambuk kesendirian,
Mencari kasih sayang yang jelas bukan darah dagingmu, korban pahitnya perpecahan
Selalu tak kuasa menahan diri untuk benar menyadari bahwa engkau takkan menjadi pusat penenang penat dalam menyelesaikan pendidikan ini.
Aku ampir sampai pada perjuanganku yang ingin membahagiakanmu nanti
Namun engkau kelelahan, engkau telah pergi
Berat, sukar sakit untuk membangun semangat itu kembali,
Hari itu
Hari dimana hanya terbayarkan 36 jam saja setelah lama tak melihat batang hidungmu
Keputusan kekanak-kanakan ku membuat tali ikatan itu retak seribu
Lalu kau pergi mendahuluiku
Aku tak ingin membuatmu sedih dengan kondisi ku
Terlalu malu untuk mengungkapkan jika ku masih sibuk dalam ketidakrela-anku
Tidak ada satupun yang bisa menjadi penawar haus rinduku.
_________________________________________________________________________________
Ku basuh kakimu untuk yang terakhir kali didalam hidupku
Mencium keningmu
Aroma khasmu telah berubah menjadi wewangian surga bagimu
Terus memandangimu yang telah terbujur kaku
Berada di sisi jasadmu yang tak lagi bernyawa
Memayungimu kala Iqamah dilatunkan menjadi pengantar terakhirmu
Hingga papan terakhir itu........ menutup jarak mata kita
Bumi telah memelukmu.. Alam dan engkau bersatu
Dan aku akan segera menyusulmu